Rabu, 23 Mei 2012

23 Mei 2012

Diposkan oleh ira kusuma di 16:28 2 komentar
Banyak sekali yang terjadi belakangan ini, terutama sebulan terakhir. Menumpahkan segalanya ke Raven setidaknya membuat saya menjadi yakin bahwa matahari esok akan mulai menorehkan kisah baru. Memaafkan diri sendiri adalah kunci nya...iya saya yakin bahwa apa yang telah saya lakukan belakangan ini telah cukup untuk menyatakan bahwa saya seorang ibu yang baik *setidaknya di mata anak saya*. Waktu tidak akan pernah kembali lagi, melangkah dengan penuh segenap harapan di dada saya. Semangat saya tidak pernah memudar untuk memberikan yang terbaik bagi anak2 saya walau harga diri dan perasaan saya merasa tercabik-cabik saat ini.

Untuk keempat anak2 saya...terima kasih telah mendukung saya selama ini dengan semua cinta yang kalian berikan, itu adalah kebahagiaan luar biasa yang pernah mama buna terima...
Lentera : terima kasih untuk selalu memberikan kejutan2 indah di setiap hari buna
Rae : berharap waktu akan mempertemukan kita kembali dan membawaku padamu untuk menebus semua rasa bersalahku
Malique : be strong! Kamu selalu menjadi hal indah dan terindah buat mama
Baby : hang on there! Kita akan melewati hari2 bersama, nyamanlah di perut mama buna walau badai mgk menunggu disana.

Untuk suami saya yang saya yakin membaca blog ini...terima kasih telah menggenggam tangan saya di malam2 ketika saya terisak menangis dengan penuh air mata dan menanyakan ada apa? Seperti status saya di gtalk saya "everybody has her own secret and keep it. Respect and do not ask...

Untuk sahabat2 saya di nmwk, terima kasih perhatiannya dan terus mensupport hari2 yang pernah saya lalui selama ini. Terima kasih untuk selalu menghibur saya dan menghapuskan lara saya...

Untuk sahabat2 saya di Desember 2008, terus berjuang menghadapi masa-masa hamil bersama2 saat ini *hey moms, kalian baru dan akan dua, saya sudah empat* wink...

Untuk sahabat2 terbaru saya di Mei 2012, semangattttt terus dan jangan lupa selalu memberikan yang terbaik bagi si baby di perut. I'm 8 weeks and diagnosed with subchorionic hematoma *Inge cuma lo yg tau segimanapun gw menguatkan diri gw menghadapi segala kemungkinan  hematoma, hati kecil gw ga bs menutupi rasa takut yg menyergap setiap gw baca trus story para penyandang sch* tapi saya pun terus berjuang, berdoa dan percaya bahwa Tuhan akan membantu saya (dan kita) untuk melahirkan generasi2 penerus yang akan mendoakan kita menuju surgaNya...*sisipin makasih dan big hug buat sanwa di malang saya yg terus support gw*

Dan untuk semua sahabat tercintaku yang ga bisa saya sebutkan satu persatu...i love u, all...

Pamit2 dari dunia maya untuk sementara waktu. Berusaha untuk menapaki lembaran baru. Butuh menyepi dan sendiri. Akan kembali pada waktunya jika jiwa saya merasa siap seutuhnya *lebay*


PS : kalau merindukan saya, twitter, fesbuk, ym, gtalk, bbm akan tetep nyala walau akan tanpa aktivitas, silakan tinggalkan pesan disana. xoxo
Muwachhhhhh

Senin, 21 Mei 2012

Subchorionic Bleeding During Pregnancy (Subchorionic Hematoma/SCH)

Diposkan oleh ira kusuma di 07:35 0 komentar
 Sometimes, blood clots form within the layers of the placenta. But more often than not, they heal themselves


Also called subchorionic hematoma, subchorionic bleeding is the accumulation of blood within the folds of the chorion (the outer fetal membrane, next to the placenta) or within the layers of the placenta itself. These bleeds, or clots, can cause the placenta to separate from the uterine wall if they get too large, if they develop in a bad spot, or if they aren’t eventually reabsorbed.

How common is it? A good 20 percent of pregnant women will experience some kind of bleeding early in pregnancy, but only 1% who diagnosed with SCH. Subchorionic hematomas are even harder to pick up because they don’t always result in noticeable spotting or bleeding, especially when they’re small.

Who is most at risk? There don’t seem to be any specific risk factors for developing a subchorionic hematoma in the first place, but if you do wind up with one, there are factors that can make you more — or less — likely to have a positive outcome.

What are the symptoms? Spotting or bleeding may be a sign, often beginning in the first trimester. But many subchorionic bleeds are detected during a routine ultrasound, without there being any noticeable signs or symptoms.

Should you be concerned? You wouldn’t be normal if you didn’t worry when you see blood, no matter when it occurs in your pregnancy. And that’s actually a good thing, especially if it prompts you to get in touch with your practitioner, who can make sure there’s nothing amiss. While most subchorionic hematomas dissolve on their own, it is possible for the clot to get in between the placenta and the uterine wall, resulting in miscarriage.

Here’s the encouraging news: More than half of women who bleed during their first trimester go on to have perfectly healthy pregnancies. But because subchorionic hematomas have been linked to increased risk of placental abruption and preterm labor, you don’t want to ignore signs of spotting or bleeding.

What you should do: Call your practitioner; an ultrasound may be ordered to see whether there is indeed a hematoma, how large it is, and where it’s located. Depending on the findings, as well as on your practitioner’s preferences, he or she may put you on strict bed rest, insist you refrain from lifting heavy objects, and avoid exercise. In most cases, you’ll be asked to avoid sexual intercourse until the hematoma dissolves and disappears.

Senin, 14 Mei 2012

My Fourth Pregnancy and Subchorionic Bleeding

Diposkan oleh ira kusuma di 17:39 4 komentar
This "letter" is dedicated to my son that I love ... Malique ... Hopefully someday when you read it, you'll understand that I am doing this because I have no other choice, because I could not choose between you and your brother. But whatever happens now, I want you to know that my love has never diminished even more I love you more than the day before ...

This is what happened to me...

Karena saya tahu bahwa saya terlambat haid, itu berarti saya pasti hamil. Di kehamilan keempat ini saya tidak merasakan gejala apapun seperti kehamilan sebelumnya dimana saya demam tinggi, mual, atau merasa badan serba sakit.

Pergilah saya membeli sebuah test pack atas usul Sanny bermerk onemed yg notabene hanya 2.500 rupiah saja :D Dan benar bahwa hasil testpack saya menyatakan bahwa saya positif hamil dalam hitungan detik.

Satu minggu kemudian saya membuat perjanjian dengan dokter kandungan saya di Kemang Medical Care yaitu Dr Ridwan pada pukul setengah sembilan malam. Senang bertemu dengan beliau..dan dengan wajah datar serta senyum beliau menjabat tangan saya. Pada saat menunggu melakukan USG, dokter bertanya berapa umurmu? Saya jawab sambil nyengir lebar krn tau maksud pertanyaannya...31 lebih dok,,,dengan 4 kali kehamilan. “Jangan bilang saya ga mengingatkan kamu ga pasang kontrasepsi yah” dia menyambung. Haha ya ya tulisan dia pun masih jelas ketika saya dinyatakan clear dari post prenatal bahwa saya harus MMR dan KB. Tapi ntah kaki saya belum beranjak untuk memutuskan KB.

USG pun dilakukan dan kemudian dokter mendeteksi dua "kantong" di sana. Saya memperhatikan raut muka seriusnya tanpa berkedip. Oke, saya tinggal menunggu ketidakberesan yang tertangkap di layar monitor usg . Seketika saya hanya bisa menarik nafas panjang dan berucap allahuakbar seraya menunggu kalimat yang akan meluncur dari mulutnya.

Kita lakukan USG transvaginal jika Rahma tidak keberatan, dokter mengeluarkan kalimat pamungkasnya. Jujur badan saya melemas, nafas memburu tak beraturan, namun saya tetap tersenyum dan menjawab siap. USG Trans V berarti dia membutuhkan sesuatu untuk memperjelas apa yang sudah ditangkap indera pengelihatannya.

Kursi pun beralih ke kursi USG transvaginal. Dokter memutar-mutar alat di dalam sana. Dan mulai menunjukkan "dua kantong" yang tadi dia sebutkan. SUBCHORIONIC BLEEDING ini namanya, Rahma. Satu kantong ini adalah kantong janin dan satu kantong lagi ada kantong darah *begitu kira2 bahasa orang awam*.

Ini lah penampakan subchorionic bleeding...




Nampak jelas bukan ada dua kantong disana walau yang satu nampak samar. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan disana dan dokter pun menjelaskan dengan sabar. Singkat kata bahwa kantong darah tersebut akan pecah karena terdesak dengan semakin berkembangnya kantong janin yang akan membesar, dan ketika kantong darah itu pecah maka saya akan mengalami pendarahan dan dinyatakan bedrest selama 3 hari. Oke, saya akan hadapi. Tapi tak berhenti di situ, bahwa saya harus menjaga dalam situasi bahwa kantong itu tidak pecah saat ini yang akan menyebabkan keguguran dan kematian janin. Then how? Berat hati dokter menjelaskan karena beliau tau betapa resahnya saya….terhadap buah hati saya, Malique. Yah, salah satu cara terbesar adalah menyapih Malique untuk mencegah terjadinya kontraksi hebat dan pecahnya kantong darah tadi.

Masuk mobil, mulailah bercucuran air mata saya….

Desember 2010…saya terpaksa menyapih Rhe karena kontraksi yang semakin hebat disertai flek sebelumnya pada kehamilan Rae. Saya terpaksa merampas hak Rhe untuk dapat terus saya susui selama dua tahun. Namun Allah mengatakan lain. Pada 24 Januari 2011 Allah mengambil nyawa Rae.

Dan kini kilatan bayangan masa lalu beberapa tahun silam seolah seperti de javu yang terjadi dalam hidup saya. Dan lagi anak saya harus berkorban demi anak yang lain? Apakah pengorbanan yang akan Malique lakukan akan terus membuat anak yang sedang saya kandung akan tetap hidup? Trauma saya beberapa tahun lalu ketika saya harus menghadapi kenyataan kehilangan Rae membuat saya menangis di tiap malam saya selama 10 bulan saya mengandung Malique, karena begitu takutnya saya juga akan kehilangan Malique. Taruma saya beberapa tahun lalu ketika dokter menyatakan kematian mundiga Rae dengan berhentinya detak jantungnya tanpa sebab apa2.

Saya duduk di tenda pinggir jalan dengan air mata yang terus mengalir. Tuhan, bukankah seharusnya saya saja yang berkorban dan berjuang demi anak-anak saya? Tuhan kenapa tidak Kau berikan saya kesempatan untuk terus bisa menyusui Malique salama kehamilan saya? Saya akan menanggung semua perih yang ada di perut ini sehingga tak perlu ada Malique yang saya ambil haknya walaupun saya merasakannya ketika saya hamil dan menyusui bersamaan perut saya rasanya dicabik2.

Malique kecil saya adalah anak yang sangat kuat menyusunya dan dia memiliki bonding yang besar dengan saya….itulah yang membuat saya berat melakukan semua ini. Saya kemudian memikirkan bahwa saya harus selalu pulang malam seminggu pada saat proses menyapih karena biarlah Malique sendiri yang akan memutuskan bahwa saya tidak lagi menyusuinya. Tapi bagaimana jika saya telah melewati seminggu itu? Ketika Malique kembali bertemu saya, itu berarti dia akan kembali menyusu sama saya. Dan pada akhirnya keputusan telah saya buat…SAYA AKAN MENGHADAPINYA seberat apapun. Saya tidak ingin memalingkan muka karena perasaan bersalah saya terhadap Malique karena menyapihnya. Yah, saya dan Malique akan berjuang bersama melewati semua ini…

Malam pertama, Malique terbangun dan mencari saya untuk menyusu. Saya hanya mampu menggendongnya. Nampak sekali dia tidak tenang dan resah. Berkali2 berusaha membuka baju saya dan saya menutupnya kembali sambil berkata no nen sayang. Saya menggendongnya berjam2 agar dia terlelap dipelukan saya tanpa meminta nenen. Berjam2 saya menggendongnya sambil menangis tanpa Malique sadari. Saya ga ingin Malique tau bahwa hati saya hancur menyapihnya sekarang. Setiap air mata yang menetes, saya selalu menyekanya dan kemudian tersenyum jika dia memandang saya. Hari ini…belum selesai proses saya menyapih Malique. Tiap kali mata mungilnya memohon, hati saya rasanya remuk lagi.

Tapi saya tidak akan lagi bertanya kepada Tuhan kenapa Dia memberikan saya cobaan yang pernah saya lewati beberapa tahun lalu. Saya tidak akan bertanya kepada Tuhan akankah nanti pengorbanan Malique akan membuat adeknya terus hidup? Saya tidak akan bertanya kepada Tuhan mengapa saya harus menjalani ini…Saya hanya tau satu hal seperti yang selalu saya tanamkan dalam mind set saya bahwa Allah akan selalu bersama prasangka hambaNya, maka saya akan berjuang, berkorban, dan berprasangka yang baik terhadap yang Dia berikan. Cobaan yang Dia berikan tergantung bagaimana kita menyikapinya…akan meninggikan derajat kita apabila kita memilih untuk bersabar dan ikhlas…atau akan menurunkan derajat kita apabila kita memilih untuk tidak menerima kenyataan.

Seberat apapun hati ini, saya akan menyerahkan semua masalah ini kepadaNya. Saya yakin begitu banyak hikmah dalam perjalanan yang harus saya lalui. Saya yakin dan percaya bahwa suatu hari kantong darah tersebut akan hilang tanpa harus pecah yang akan membuat saya pendarahan suatu hari nanti. Saya percaya Allah akan menurunkan mukjizatnya. Saya percaya bahwa saya mampu melewati semua ini. Dan saya yakin bahwa adek Malique akan bias terus hidup seperti anak2 saya yang lain.

Namun jika pada akhirnya Allah menakdirkan lain, saya, hati saya, jiwa saya akan mengikhlaskan segalanya. Percayalah bahwa untuk mendapatkan keikhlasan seperti ini pun semua berproses. Dan kehamilan keempat ini membuat saya lebih mematangkan diri untuk menjalani lika liku hidup yang telah terbentang di depan sana dan ini lah bagian cerita yang saya tulis di kehidupan saya.

Seperti saya lakukan tadi malam, saya mengecup kening anak2 saya ketika tidur. Saya berbisik di telinga Rhe “terima kasih untuk pengorbananmu demi Rae” dan kemudian saya berbisik di telinga Malique “terima kasih untuk pengorbananmu demi adikmu”. Bahkan ketika saya menulis diary ini, saya menitikkan air mata bersyukur bahwa ada hikmah dibalik cobaan ini, bahwa anak saya telah belajar arti pengorbanan demi saudara kandungnya.

Dear Allah…saya yakin dan percaya Engkau akan selalu memberikan apa yang saya minta…jauh melebihi apa yang saya butuhkan…

Love and Hug,
Ira




Senin, 02 April 2012

2 April 2012...Tepat Satu Tahun Usiamu Kini, Malique...

Diposkan oleh ira kusuma di 08:55 3 komentar
Aku selalu tersenyum, berusaha menutupi air mata yang tumpah dan menggenang di ujung kelopak mata ini
Aku selalu berusaha tertawa, berusaha menutupi luka di hati ini
Aku selalu tenang, berusaha menutupi galau di dada ini

Aku hanyalah seorang ibu yang sedang berjuang demi anak lelakiku tercinta...dengan segala apa yang aku miliki, yang akan aku tukar dan aku berikan demi kebahagiaan dan kesembuhannya
Aku hanyalah seorang ibu yang sedang berjuang keluar dari semua cobaan ini
Di dalam hati ini tersimpan 1001 perasaan yang mungkin tak lagi mampu aku uraikan menjadi kata dan kemudian aku rangka menjadi untaian kalimat

Manusiawikah bila ada satu waktu aku merasa lelah? Dan salahkah bila ada satu waktu aku merasa down?
Aku pernah merasakan semua itu...di titik aku merasa Tuhan memberiku ujian yang begitu besar ini
Tapi kemudian aku istighfar dan aku percaya tangan Tuhan akan membantuku menyelesaikan dan melewati semua ujian ini

Jadi...
Tuhan, ijinkan aku meminta, berikanlah aku pundak yang lebih kuat dari sebelumnya, bukan beban yang lebih ringan dari yang sedang Kau berikan padaku

Jumat, 30 Maret 2012

Gerakan Anti BBM di Depan Anak

Diposkan oleh ira kusuma di 06:45 1 komentar
Siapa yg ga kenal sama benda di atas? Saya rasa semua orang akan mengacungkan tangan tapi dalam barisan orang yang tau bahwa benda itu adalah blackberry alias bb. Saya rasa di jaman sekarang mayoritas orang sudah menggunakannya. Ga tua, ga muda, ga laki, ga perempuan, dan tentu ga peduli kalangan apa. Hanya segelintir orang *ya tentu dlm bahasa lebay* yang masih bertahan ga pake bb. Dg alasan ekonomis mgk, atau cuma dg alasan ga suka. Nah alasan ga suka, ga tertarik ini lah yang digunakan suami saya untuk tetap bertahan kekeuh sumekeuh dg hape jadulnya.

Bb di blog saya kali ini akan lebih meruncing identik dalam arti sempit yaitu "BBM". Heheh jangan diartikan bahan bakar minyak yg gosipnya mau naek besok.

Oke kembali ke topik...Pagi2 perjalanan kantor saya mendapat bbm dari Inge, sahabat saya. Dia bertanya ra, emg apa efeknya kita nyusuin sama pegang bb? Gw br nntn tipi dr tiwi blg gt". Well, believe it or not, ini kebetulan aja br jd topik hangat antara saya dan suami beberapa hari lalu. Jawaban pertanyaan Inge intinya adalah ga ada efek yg gimana2 (dlm medis maksud saya), hanya efek psikologis yg dirugikan disini. Menyusui adalah hal terindah antara anak dan ibu, momen tercantik ketika kita melihat mata bening kecilnya menatap lekat kita, tangannya membelai kita. Yoih menyusui dan menyusu adalah saat bonding anak dan ibu, dan kenapa disaat paling membahagiakan bagi si kecil, tangan kita sebelah justru asik bbm-an.

Mari kita tengok dunia sekitar. Begitu banyak orang yg sering dibilang "autis" karena asik ber-bbm-an *tapi sy tidak sependapat dg kata autis disini* Yaa tentu saja itu akan menyakiti ibu2 yg memang memiliki anak autis dalam arti harfiah yang sebenarnya. Nunggu d halte, pd sibuk bbm-an, nunggu d bandara pd sibuk bbm-an, jalan d mol pd sibuk bbm-an and the bla bla bla. Intinya adalah ga bisa lepas dr bb. Dan selanjutnya Inge mulai membenarkan, iya ya ra, kita bangun tidur bukannya baca doa tapi langsung pegang bb xixixi.

Saya? Bagaimana dg saya? Xoxoxo nyengir lebar mengakui kesalahan sambil mengacungkan jari berbentuk peace. Saya idem loh, makanya saya bisa mendeskripsikan situasi diatas. Kemanapun saya pergi, saya susah lepas dari bb. Kenapa kenapa dan kenapa, alesannya satu bb grup jualan saya. Saya harus me-reply d waktu senggang saya, terkadang bahkan ada customer yg ga sabar nge-ping saya meskipun dalam posisi malam dan saya sudah di rumah. Fufufu. Saya ga hepi loh dalam situasi itu.

Rhe adalah anak sulung saya yg sudah bisa memprotes sesuatu. Duluuuu bgt, dia prn blg sama saya "buna, taruh dulu dong hape-nya". Akhirnya saya berubah *sedikit berubah* saya mengurangi saat pegang bb di rumah, saya hanya reply diem2 ketika ga keliat mata anak2 saya *sebisa mungkin*.

Saya *dan anda sekalian yg merasa seperti saya* sama2 tau bahwa waktu kita tidaklah banyak untuk membesarkan anak2 kita. Terutama bagi working mom seperti saya. Udah ninggalin anak kerja, tapi di rumah masih pegang bb, asoy geboi ngobrol sama temen dll. Lantas bagaimana dg full time mother alias ibu rumah tangga? Saya bangga loh dg kalimat Inge ketika dia pun sependapat dg saya *notabene inge adalah ftm* saya bilang dulu ga ada bb pun kita bisa idup bukan? Yoi Inge mengangguk.

Begitu banyak momen berharga di rumah bagi kita dan pasangan, bagi kita dan anak2 yang mungkin kemaren sempat terenggut dg karena bb. Kemaren? Iyah, karena sekarang saya dan suami mencanangkan gerakan anti hape di depan anak. Bukan ga boleh sama sekali loh. Boleeee, seperlunya saja. Dan bukan berarti saya melarang bbm-an sama temen wkt di rumah. Boleeee ber bbm ria tapi setelah anak tidur. Browsing, nge-game dll masih bisa lah kita atur waktunya setelah anak2 terlelap.

Jadi buat customer saya, be patient yaaa qqqq. No ping. Biasanya japri atau komen yang dulu masuk itu yang saya dahulukan, jd jangan khawatir kalau saya *mungkin* lama reply :p Buat teman2 saya pun begitu, maaf kalau saya slow response bales bbm. Kl urgent, miskol aja saya.

Dan apakah anda mendukung saya jika sekarang saya menggaungkan gerakan anti bbm di depan anak? Maka itu pilihan anda...

Luv,
Ira

Kamis, 22 Maret 2012

Curahan Hati

Diposkan oleh ira kusuma di 16:34 1 komentar
Sayaaannngggg...cerita ini begitu panjang dan belum jua berkesudahan. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah lelah untuk mencari dan memberikan yang terbaik untukmu.

Iya, begitu banyak pertanyaan yang belum mampu aku jawab, "bukan sekarang" hanya itu yg bisa aku jelaskan pada sahabat2ku. Akan tiba saatnya aku akan bercerita...dan tentu saja untuk menjadi kenanganmu bila kelak aku tiada...

Kemarin
Hari ini
Dan esok
Cintaku akan selalu besar padamu

*kecupbasahuntukmuselalu*

to be continued....

Rabu, 14 Maret 2012

Saya Bangga dan Tidak Pernah Malu Menjadi Orang Pajak

Diposkan oleh ira kusuma di 07:47 24 komentar
Catatan pribadi seorang alumnus STAN, PNS, dan seorang istri pegawai Direktorat Jenderal Pajak...

Tulisan ini saya buat ditengah badai yang kedua kali menghantam Direktorat saya...Direktorat Jenderal Pajak...dan setelah berlangsungnya acara penguatan mental yg dipimpin langsung Fuad Rahmani...

1998 ketika saya dinyatakan lulus ujian masuk STAN, saya hanyalah seorang gadis *bahasa saya :p* yg datang dr Surabaya dan kemudian menempati gerbong kereta ekonomi kertajaya bersama teman2 saya dr Probolinggo, Surabaya, Sidoarjo. Yup ketika itu pun saya sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari Mami Papi saya. Harga tiket ekonomi waktu itu sekitar 30rb Surabaya-Jakarta *murah meriah untuk status saya sebagai mahasiswa*. Berbekal niat dan rasa tanggung jawab saya kepada negara setelah saya sign kontrak hitam diatas putih bahwa saya akan mendapatkan sekolah dan segala fasilitasnya for free dengan konskuensi akan adanya ikatan dinas 3N+1. Saya bangga menjadi anak STAN, dimana STAN ini untuk masuknya benar2 melalui seleksi yg cukup ketat dan dipastikan bersih dan segala macam korupsi, kolusi dan nepotisme.

2001 saya dinyatakan lulus dari STAN. Setelah itu saya termasuk salah satu orang yang memilih instansi Pajak diantara beberapa instansi yg diberikan pilihan kepada saya seperti Direktorat Jenderal Bea Cukai, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara dsb. Dan alhamdulillah IPK saya memenuhi layer di pajak.

Setelah mengenyam pendidikan di Pusdiklat Perpajakan selama beberapa bulan, saya dan teman2 seperjuangan kuliah mulai berpisah. Tentu saja sesuai dg hasil ujian diklat yg menentukan kami akan mendapat penempatan di kota mana dan tentunya akan disebar di seluruh Indonesia.

Saya mulai menapakkan status saya sebagai CPNS dan memulai kiprah saya di Kanwil DJP Jakarta Pusat di bidang Dukungan Teknis dan Konsultasi.

Bertepatan dg era modernisasi yang digaungkan oleh bu Sri Mulyani *hey mom, I miss u and proud of u* pada tahun 2005, Kanwil DJP Jakarta Pusat mengacungkan diri dg menanggung segala konsekuensinya untuk menjadi pioneer Kanwil modern. Dan bebarengan setelah saya melanjutkan pendidikan saya lg untuk naik level, Kepala Seksi saya yang pada saat itu promosi menjadi Kepala Bidang Duktekkon, mengusulkan saya melalui mutasi intern untuk naik menjadi Penelaah Keberatan.

Dan disinilah saya memulai karir saya di teknis. Tentunya job description saya menangani segala macam Pengurangan, Keberatan, dan Banding di daerah Jakarta Pusat.

2007, Saya menikah dg teman kuliah saya yang notabene adalah PNS di instansi yang sama. Ketika kami menikah saya dan dia sudah berkomitmen untuk selalu menjaga segala macam kehidupan ini dg yg halal, terutama demi anak2 kami nantinya. Kami berdua menginginkan apa yg akan masuk ke mulut anak2 kami dan untuk membesarkan anak2 kami selalu dari rejeki yg halal darimanapun datangnya. Karena dalam islam jelas bahwa apa yang kita dapat yang akan dimakan keluarga kita akan menjadi daging dan mengalir ke peredaran darah. Maka apabila saya dan suami saya memberi makan anak saya dengan rejeki yang tidak halal, maka daging dan aliran darah itu itu akan terus di dalam tubuh anak2 saya....dan saya tentu saja memilih hidup berkecupan asalkan kehidupan saya, anak2, dan keluarga saya dirahmati Allah.

2010, DJP dihantam badai dg kemunculan berita Gayus. Dengan status sesama Penelaah Keberatan, tentu saja "kehidupan" kami sebagai Penelaah Keberatan pun diobok2. Betapa saya masih mengingat, akibat ulah satu oknum tersebut, kami seolah menjadi potret kelam institusi pemerintahan yg korup. Pagi hingga malam kami harus berkutat dengan berkas2 yg diminta Inspekorat Jendral (Itjen) untuk diperiksa. Kami pun harus bolak balik memenuhi panggilan Bareskrim terkait dg status Penelaah Keberatan terutama berhubungan dengan berkas kami yg juga dipegang Gayus. Mami saya...yup, beliau stres hingga memutuskan terbang ke Jakarta dan memaksa saya untuk cuti dini karena takut kehamilan saya yg sudah menginjak usia mendekati kelahiran akan terganggu karena penyelesaian kasus Gayus ini. Tapi saya dengan sabar menjelaskan kepada ibu saya bahwa اَللّهُ tidak akan tidur, bahwa اَللّهُ akan menunjukkan jalan kebenaran walau begitu besar cobaan yang harus saya lewati dan kami, DJP tentunya. Saya percaya bahwa kebenaran tidak akan tertukar.

Juli 2011, mungkin ini adalah kado ulang tahun saya. Dan jg bertepatan dengan awal saya masuk kembali setelah cuti bersalin, ditengah kasus Gayus yang masih belum selesai saya dipromosikan menjadi penelaah keberatan ϑί Kanwil DJP Jakarta Khusus. Saya menangani Wajib Pajak di seluruh Indonesia dg status Wajib Pajak Penanaman Modal Asing dan Badan dan Orang Asing.

2012, badai kedua menghantam DJP kembali. Kasus DW muncul ke permukaan. Jika saya mempunyai opini pribadi bahwa kasus ini diblow up dalam rangka menutup atau membelokkan pandangan publik terhadap kasus angie-nazar, apakah anda sependapat dg saya? Mari kita luruskan kembali terkait dg jumpa pers keterangan kejagung beberapa wkt lalu bahwa kejagung dan PPATK tidak pernah mengeluarkan statement bahwa di rekening DW terdapat saldo 60M, lantas siapa? Wartawan jawabannya kah? Saya tidak akan membuat opini, tapi anda sekalian yg merasa pintar saya yakin mampu menjawab pertanyaan saya. Kedua, apakah anda tau sosok DW sebenarnya yg tidak pernah disorot media? Dia hadir dimajalah Tarbawi tahun 2005 sebagai sosok lelaki yang berada di pintu surga. Dia yg setia menemani ibunya yg sakit hingga ajalnya. Dia yg menampung kotoran ibunya dg tangannya sendiri dan menolak menggunakan pispot. Taukah anda bahwa DW terlahir dr keluarga yg notabene kaya? Percayakah anda bahwa rumah yg ditinggali DW saat ini adalah rumah warisan orang tuanya yg sudah meninggal semua saat ini? DW bertahun2 tidak memiliki anak karena dia terlalu fokus dg pengobatan dan sakit ibunya. Anda tentu akan terhenyak dg fakta yg saya berikan ini.

Tetapi apapun itu, berita Gayus, berita DW, mengertikah anda bahwa diluar sana terdapat puluhan ribu PNS Pajak yang bersih dan anti korup. Saya termasuk bagian dari orang yg pergi shubuh meninggalkan anak2 saya *dg air mata di hati* untuk mendedikasikan diri saya pada negara. Saya dan puluhan ribu PNS Pajak mengejar absen 7.30 dimana itu adl jam masuk terpagi diantara semua karyawan di indonesia. Dan ketika saya terlambat satu menitpun, saya akan mendapat potongan gaji 150rb sebelum diberlakukannya layer kompensasi jam absen. Percayakah anda di luar sana, dg tugas yg saya emban utk negara, negara tidak memberikan tunjangan kesehatan kepada saya, anak2 saya, keluarga saya. Percayakah anda di luar sana, dg tugas yg saya emban pula saya sama sekali tidak mendapat dispensasi apapun...tidak peduli apakah saya sakit atau anak saya sakit, maka jika saya tidak masuk dg alasan apapun maka gaji saya akan dipotong.

Dg kenaikan minyak dunia saat ini taukah anda diluar sana, bahwa DJP lah yang terkena imbasnya. Menkeu menyatakan bahwa DJP lah pengemban kompensasi kenaikan bbm yg akan dilakukan dan tentu akan berdampak inflasi serta adanya Bantuan Langsung Tunai. DJP lah yg mempunyai tugas untuk menutup defisit APBN tersebut! Kami harus mendapatkan trilyunan untuk mendanai negara, maka ternyata apa yg dilakukan Gayus masihlah jauh dari angka yang selama ini telah kami berikan kepada negara.

Saya tidak akan berpendapat ttg Gayus atau DW, biar saja tangan Tuhan yang akan bekerja dan akan ada keadilan abadi disana. Saya, dan kami DJP tidak akan gentar terhadap pemberitaan yg beredar dan mencabikkan harga diri institusi kami. Karena kami percaya bahwa kami bersih. Kami bekerja dg integritas dan profesionalisme kami.

Untuk anda yg terlalu memicingkan mata diluar sana terhadap institusi kami, lewat tulisan ini saya hanya ingin anda membuka mata bahwa saya, kami, dan DJP telah mempertaruhkan banyak hal kehidupan pribadi kami demi negara ini! Dan jika Fuad Rahmani mengepalkan tangan dan dengan lantang menyatakan bahwa kami adalah ksatria negara, maka tentu dengan sepenuh hati di dada saya-pun menyatakan bahwa saya bangga menjadi pegawai DJP!

Saya yakin suatu saat badai itu akan berlalu karena kami generasi muda penerus DJP akan bertanggung jawab mengemban amanah.

Allahualam bishawab
Powered by Telkomsel BlackBerry®
 

Morning Light Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez