Catatan pribadi seorang alumnus STAN, PNS, dan seorang istri pegawai Direktorat Jenderal Pajak...
Tulisan ini saya buat ditengah badai yang kedua kali menghantam Direktorat saya...Direktorat Jenderal Pajak...dan setelah berlangsungnya acara penguatan mental yg dipimpin langsung Fuad Rahmani...
1998 ketika saya dinyatakan lulus ujian masuk STAN, saya hanyalah seorang gadis *bahasa saya :p* yg datang dr Surabaya dan kemudian menempati gerbong kereta ekonomi kertajaya bersama teman2 saya dr Probolinggo, Surabaya, Sidoarjo. Yup ketika itu pun saya sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari Mami Papi saya. Harga tiket ekonomi waktu itu sekitar 30rb Surabaya-Jakarta *murah meriah untuk status saya sebagai mahasiswa*. Berbekal niat dan rasa tanggung jawab saya kepada negara setelah saya sign kontrak hitam diatas putih bahwa saya akan mendapatkan sekolah dan segala fasilitasnya for free dengan konskuensi akan adanya ikatan dinas 3N+1. Saya bangga menjadi anak STAN, dimana STAN ini untuk masuknya benar2 melalui seleksi yg cukup ketat dan dipastikan bersih dan segala macam korupsi, kolusi dan nepotisme.
2001 saya dinyatakan lulus dari STAN. Setelah itu saya termasuk salah satu orang yang memilih instansi Pajak diantara beberapa instansi yg diberikan pilihan kepada saya seperti Direktorat Jenderal Bea Cukai, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara dsb. Dan alhamdulillah IPK saya memenuhi layer di pajak.
Setelah mengenyam pendidikan di Pusdiklat Perpajakan selama beberapa bulan, saya dan teman2 seperjuangan kuliah mulai berpisah. Tentu saja sesuai dg hasil ujian diklat yg menentukan kami akan mendapat penempatan di kota mana dan tentunya akan disebar di seluruh Indonesia.
Saya mulai menapakkan status saya sebagai CPNS dan memulai kiprah saya di Kanwil DJP Jakarta Pusat di bidang Dukungan Teknis dan Konsultasi.
Bertepatan dg era modernisasi yang digaungkan oleh bu Sri Mulyani *hey mom, I miss u and proud of u* pada tahun 2005, Kanwil DJP Jakarta Pusat mengacungkan diri dg menanggung segala konsekuensinya untuk menjadi pioneer Kanwil modern. Dan bebarengan setelah saya melanjutkan pendidikan saya lg untuk naik level, Kepala Seksi saya yang pada saat itu promosi menjadi Kepala Bidang Duktekkon, mengusulkan saya melalui mutasi intern untuk naik menjadi Penelaah Keberatan.
Dan disinilah saya memulai karir saya di teknis. Tentunya job description saya menangani segala macam Pengurangan, Keberatan, dan Banding di daerah Jakarta Pusat.
2007, Saya menikah dg teman kuliah saya yang notabene adalah PNS di instansi yang sama. Ketika kami menikah saya dan dia sudah berkomitmen untuk selalu menjaga segala macam kehidupan ini dg yg halal, terutama demi anak2 kami nantinya. Kami berdua menginginkan apa yg akan masuk ke mulut anak2 kami dan untuk membesarkan anak2 kami selalu dari rejeki yg halal darimanapun datangnya. Karena dalam islam jelas bahwa apa yang kita dapat yang akan dimakan keluarga kita akan menjadi daging dan mengalir ke peredaran darah. Maka apabila saya dan suami saya memberi makan anak saya dengan rejeki yang tidak halal, maka daging dan aliran darah itu itu akan terus di dalam tubuh anak2 saya....dan saya tentu saja memilih hidup berkecupan asalkan kehidupan saya, anak2, dan keluarga saya dirahmati Allah.
2010, DJP dihantam badai dg kemunculan berita Gayus. Dengan status sesama Penelaah Keberatan, tentu saja "kehidupan" kami sebagai Penelaah Keberatan pun diobok2. Betapa saya masih mengingat, akibat ulah satu oknum tersebut, kami seolah menjadi potret kelam institusi pemerintahan yg korup. Pagi hingga malam kami harus berkutat dengan berkas2 yg diminta Inspekorat Jendral (Itjen) untuk diperiksa. Kami pun harus bolak balik memenuhi panggilan Bareskrim terkait dg status Penelaah Keberatan terutama berhubungan dengan berkas kami yg juga dipegang Gayus. Mami saya...yup, beliau stres hingga memutuskan terbang ke Jakarta dan memaksa saya untuk cuti dini karena takut kehamilan saya yg sudah menginjak usia mendekati kelahiran akan terganggu karena penyelesaian kasus Gayus ini. Tapi saya dengan sabar menjelaskan kepada ibu saya bahwa اَللّهُ tidak akan tidur, bahwa اَللّهُ akan menunjukkan jalan kebenaran walau begitu besar cobaan yang harus saya lewati dan kami, DJP tentunya. Saya percaya bahwa kebenaran tidak akan tertukar.
Juli 2011, mungkin ini adalah kado ulang tahun saya. Dan jg bertepatan dengan awal saya masuk kembali setelah cuti bersalin, ditengah kasus Gayus yang masih belum selesai saya dipromosikan menjadi penelaah keberatan ϑί Kanwil DJP Jakarta Khusus. Saya menangani Wajib Pajak di seluruh Indonesia dg status Wajib Pajak Penanaman Modal Asing dan Badan dan Orang Asing.
2012, badai kedua menghantam DJP kembali. Kasus DW muncul ke permukaan. Jika saya mempunyai opini pribadi bahwa kasus ini diblow up dalam rangka menutup atau membelokkan pandangan publik terhadap kasus angie-nazar, apakah anda sependapat dg saya? Mari kita luruskan kembali terkait dg jumpa pers keterangan kejagung beberapa wkt lalu bahwa kejagung dan PPATK tidak pernah mengeluarkan statement bahwa di rekening DW terdapat saldo 60M, lantas siapa? Wartawan jawabannya kah? Saya tidak akan membuat opini, tapi anda sekalian yg merasa pintar saya yakin mampu menjawab pertanyaan saya. Kedua, apakah anda tau sosok DW sebenarnya yg tidak pernah disorot media? Dia hadir dimajalah Tarbawi tahun 2005 sebagai sosok lelaki yang berada di pintu surga. Dia yg setia menemani ibunya yg sakit hingga ajalnya. Dia yg menampung kotoran ibunya dg tangannya sendiri dan menolak menggunakan pispot. Taukah anda bahwa DW terlahir dr keluarga yg notabene kaya? Percayakah anda bahwa rumah yg ditinggali DW saat ini adalah rumah warisan orang tuanya yg sudah meninggal semua saat ini? DW bertahun2 tidak memiliki anak karena dia terlalu fokus dg pengobatan dan sakit ibunya. Anda tentu akan terhenyak dg fakta yg saya berikan ini.
Tetapi apapun itu, berita Gayus, berita DW, mengertikah anda bahwa diluar sana terdapat puluhan ribu PNS Pajak yang bersih dan anti korup. Saya termasuk bagian dari orang yg pergi shubuh meninggalkan anak2 saya *dg air mata di hati* untuk mendedikasikan diri saya pada negara. Saya dan puluhan ribu PNS Pajak mengejar absen 7.30 dimana itu adl jam masuk terpagi diantara semua karyawan di indonesia. Dan ketika saya terlambat satu menitpun, saya akan mendapat potongan gaji 150rb sebelum diberlakukannya layer kompensasi jam absen. Percayakah anda di luar sana, dg tugas yg saya emban utk negara, negara tidak memberikan tunjangan kesehatan kepada saya, anak2 saya, keluarga saya. Percayakah anda di luar sana, dg tugas yg saya emban pula saya sama sekali tidak mendapat dispensasi apapun...tidak peduli apakah saya sakit atau anak saya sakit, maka jika saya tidak masuk dg alasan apapun maka gaji saya akan dipotong.
Dg kenaikan minyak dunia saat ini taukah anda diluar sana, bahwa DJP lah yang terkena imbasnya. Menkeu menyatakan bahwa DJP lah pengemban kompensasi kenaikan bbm yg akan dilakukan dan tentu akan berdampak inflasi serta adanya Bantuan Langsung Tunai. DJP lah yg mempunyai tugas untuk menutup defisit APBN tersebut! Kami harus mendapatkan trilyunan untuk mendanai negara, maka ternyata apa yg dilakukan Gayus masihlah jauh dari angka yang selama ini telah kami berikan kepada negara.
Saya tidak akan berpendapat ttg Gayus atau DW, biar saja tangan Tuhan yang akan bekerja dan akan ada keadilan abadi disana. Saya, dan kami DJP tidak akan gentar terhadap pemberitaan yg beredar dan mencabikkan harga diri institusi kami. Karena kami percaya bahwa kami bersih. Kami bekerja dg integritas dan profesionalisme kami.
Untuk anda yg terlalu memicingkan mata diluar sana terhadap institusi kami, lewat tulisan ini saya hanya ingin anda membuka mata bahwa saya, kami, dan DJP telah mempertaruhkan banyak hal kehidupan pribadi kami demi negara ini! Dan jika Fuad Rahmani mengepalkan tangan dan dengan lantang menyatakan bahwa kami adalah ksatria negara, maka tentu dengan sepenuh hati di dada saya-pun menyatakan bahwa saya bangga menjadi pegawai DJP!
Saya yakin suatu saat badai itu akan berlalu karena kami generasi muda penerus DJP akan bertanggung jawab mengemban amanah.
Allahualam bishawab
Powered by Telkomsel BlackBerry®